[melanjutkan episode sebelumnya]
Setelah puas foto-foto di ladang “bunga”, kami melanjutkan perjalanan ke Bangko. Begitu keluar dari kawasan ladang minyak Duri, melalui gate Kulin, saya segera menginjak pedal gas lebih dalam. Maklum, kalau di dalam kawasan ladang minyak hanya boleh 40 Km/jam. Eh, baru lima menit berkendara, Refli meminta saya menghentikan mobil. Minggir bentar Mas… Ada apa Ref? Mau beli martabak dulu Mas. Walaaahhhh, kirain apa. Dia bilang kalau pergi ke Bangko sering beli martabak di situ.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Kondisi jalan ke arah Bangko cukup ramai. Kami sering berpacu dengan truk atau bus yang ke arah Medan. Yang saya agak kesal adalah kondisi jalannya. Rusak abiss. Pokoknya jangan heran, banyak jalan di Riau ini yang rusak. Yang bagus cuman di Pekanbaru-nya kali.
Negeri Bertuah, minyak melimpah, sawit di mana-mana, kayu juga ada… Tapi jalannya ancur-ancuran. Katrok kalau istilah orang sekarang.
Setelah hampir dua jam, kami tiba di Bangko. Kami langsung ikut sholat jumat di masjid camp. Oh ya, kurang lebih 2 Km sebelum masuk Bangko Camp Anda akan menemui Tugu Devisa (ini istilah saya sendiri) ini fotonya. Agak tak terawat memang. Tugu ini berada di pinggir jalan lintas Medan.
Selesai sholat jumat, saya segera ke Balam. Tujuan kami memang mau resolve problem di sana. Ternyata problemnya cuman power supply doang. Walaahhhh… Katrok memang. Jam 4 sore kami bergegas menuju Duri. Pas melewati tugu di atas, saya ajak Refli berfoto ria. Mejeng_Mode: ON. Oh ya, fotonya Refli mana ya? Dia rada pemalu, takut marah kalau fotonya disebarin di internet.

