Siang tadi saya dan Mas Pambuka Vita Adi meeting dengan salah satu kontraktor [ Mas Pambuka waktu itu adalah leader sekaligus guru saya dalam hal manajemen proyek]. Katakan saja Kontraktor A. Agenda meeting tsb diantaranya adalah konfirmasi penalti dan pembayaran (invoice).
Memang, PT A ini kena penalty proyek yg mereka kerjakan. Kebetulan saya project manager-nya Saya sendiri sudah allout dalam mengerjakan proyek tsb. Mungkin saya perlu belajar lebih untuk jadi project manager yg baik. Namun di sisi lain, manajemen proyek dari PT A ini memang rada payah.
Hal lain yg menarik dari meeting td adalah mereka menanyakan ttg invoice atau pembayaran. Lho, invoice sudah kami terima . Yang artinya adalah pembayaran sudah dilakukan. Bahkan sudah termin ketiga. Dari situ saya dan Mas Pambuka mengetahui bahwa mereka ini dari PT C. Memang, mereka yg mengerjakan langsung di lapangan. Bahkan barangnya pun dari brand PT C ini. Tapi kontrak kita adalah dengan PT A.
Dan mereka juga mengungkapkan bahwa tidak hanya PT A dan C saja yg terlibat. Proyek kita dengan PT A. PT A meng-out-source-kan ke PT B dan di-out-source-kan ke PT C. Hehehehe. Cilakanya, PT C ini mengaku belum kebagian duit sama-sekali. Cilaka 15 dech.
Ini mungkin banyak kejadian jg di tempat lain. Sekarang saya tau, knapa kok mereka jelek manajemen proyeknya. Lha wong menerapkan out sourcing level-3. Tapi alhamdulillah proyek saya berjalan lancar (dilihat dr sisi user). Meskipun secara overall, proyek agak bermasalah.


Hmm..jd ingat ktika suami menyapa mandor pmbuat taman kota d Solo. Suami nanya jg, gmn caranya bs dpt proyek mmbuat taman kota. Trnyata prosesnya spt cerita di atas. Padahal ini hanya taman kota,proyek yg lbh kecil dr cerita diatas. Lantas brp byk proyek mbulet spt ini di Indonesia dr yg kecil sampe yg besar…yg rugi siapa ya?