Tidak seperti rujak yg banyak macam isinya, kalau Tahu Tek isinya cuman tahu, lontong dan kerupuk. Salah satu yg khas dari Tahu Tek ini adalah penyajian tahunya yg masih panas alias baru selesai digoreng [waduuhhhhh, jadi mengalir kelenjar ludah saya].
Karena dihidangkan masih panas, pemotongan tahu biasanya menggunakan gunting bukan pisau. Bunyi yg keluar pada saat menggunting tahu ini sangan khas. Crek… crek… crek.. (dari jauh bunyinya terdengar Tek.. tek.. tek..). Itulah kenapa makanan ini disebut Tahu Tek.
Kalau Rujak Cingur, Lontong Kupang atau Lontong Kikil, untuk mendapatkannya saya harus dateng ke yg jualan. Lain dengan Tahu Tek, biasanya tiap malam, kira2 jam 9, si mas penjual Tahu Tek keliling ini selalu melewati rumah orang tua saya. Saya tinggal teriak, Tahu Tek langsung dibikinin ama si masnya. Rasanya maknyus lho.. harganya murah, 4 ribu sepiringnya.
Nah, kemarin istri saya coba buatin Tahu Tek untuk saya. Tadinya saya meragukan kebisaannya. Wong istri baru beberapa kali mencicipin Tahu Tek masak bisa bikin sendiri. pikir saya. Eh, ternyata istri saya bisa lho… dan rasanya juga maknyuuuuuussss banget. Terobati dech rasa kangen ama masakan Jawa Timur ini. Oh ya, resep dan bahannya mudah lho. Anda pengen tau ndak?


KAlo di tempat saya (Porong) dan sekitarnya.. tahu tek tu luengkap pake kecambah pendek yg disiram air panas dulu, tahu panas, lontong, kentang rebus serta krupuk ikan tapi kecil2 disiram bumbu kacang+petis+kecap+bawang putih&cabe yg mantap dengan taburan bawang goreng dan seledri. Weitz… ada lagi pelengkapnya yang bikin suegeeer…acar mentimun+bawang merah+cabe rawit hijau!! Kalo suka, bisa pakai dadar telur yang di iris jadi toping yang gurih… Cobain deh….. MMmmhhh…. Mak Nyooozzz!! (Ni resep dari mbah buyutku;p)
Setahu T, tahu Tek di dapat dari suara sodet yang dipukulin ke wajan tipis itu, bukan dari guntingnya (itu versi kampung T) untuk memanggil pembeli, seperti tukang mi & nasgor yang keliling tu.. Maaph kalo g sama…
membaca deskripsinya sih pengen coba. saya cuma pernah coba tahu kupat. kuahnya sambel kecap. sebelum makan rasanya sudah ngiler2.
tapi pas sudah di makan, sampe setengah piring masih enak. lama-lama eneg juga (mungkin kuah sambel kecapnya yang kental).
saya biasa makan tahu kupat di samping rs. dr. muwardi solo….
Hello Mr. Andhi,
sorry I write in English, because my Bahasa Indonesia is from long time ago. In my schoolboy-years I lived in Surabaya (Darmo-area). That was in the early fifties. I left Surabaya when I was 15 years old, in 1958.
I clearly rember the making of Tahu Gunting. Always man came along, in the beginning of the evening, carrying their baskets. And often I asked for that meal.
Later I forget that, antill recently, when there was a meeting of old Surabyan people in Amsterdam. And we talked about our youth. So I went looking on the Internet, and found yoyr weblog. Thanks for placing those nice pictures. I understand that nowadays it is called: Tahu Tek (from the sound they make when they passed the street)
greetings from Humphry Goes from Amsterdam