Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2007

Bahagia ku

Waktu-waktu apa yang Anda merasa paling bahagia, tenang dan damai saat ini? Tidak usah banyak merenung dan berfikir terlalu lama. Kalau dalam waktu 1 menit Anda belum bisa menemukan satu jawabanpun, sebaiknya segera mengunjungi psikiater. Hahahaha. Just kidding…

Kalau saya sendiri, ada dua waktu dimana saya merasa sangat tenang, damai dan bahagia. Yakni pada saat bercanda-ria dengan keluarga (istri, ayah, ibu dan adek-adek) dan pada waktu saya sholat. Saya nggak tau alasannya apa, tapi yang jelas, ada yang beda pada saat-saat itu.

Bercengkrama dengan orang-orang yang saya cintai membuat hati ini tentram. Ayah, ibu dan adek-adekku saat ini jauh di Sidoarjo. Yah benar, kota yang terkenal dengan mud flow-nya. Jadi sekarang ya sama istri saja. Aku suka kalau dengar dia tertawa, lucu. Hehehehe. Jadi sering saya godain dia. Senda-gurau itulah yang membuat saya merasa bahagia dan damai. Apalagi saat memeluknya… Tuh, dia menyapa. Hobinya belanja, apalagi kalau udah ada tulisan discount (dasar wanita, heuh). [Ini juga udah siap-siap mau belanja, mau nyari box bayi]

Sedangkan pada saat sholat, saya merasa mendapat ketenangan dan ketentraman di hati. Senang sekali rasanya. Padahal cuman sekitar 5 menit. Tentunya pada saat sholat yang rada tenang. Saya tidak bisa mengatakan khusu’, karena saya belum tau bagaimana sholat yang khusu’ itu.

Advertisements

Read Full Post »

Pembangunan

Seringkali saya melihat jalan rusak di Pekanbaru – Rumbai – Duri sampai ke Dumai. Bahkan, teman saya pernah nyeletuk, “Sumur minyak juga ada yang di tengah jalan lho..”, saya tadinya tidak mengerti apa maksudnya. Setelah jalan di seputaran Kecamatan Duri, baru saya ngeh yang dimaksud teman tadi. Aneh pikir saya, Bumi Lancang Kuning ini [ini sebutan untuk Riau] begitu kaya raya. Di bawah ada minyak bumi, di atas ada minyak sawit dan jangan lupa Anda akan sering menemui truk tronton yang membawa 40 ton kayu gelondongan, hasil pembalakan hutan Riau. Rupanya Pemda di sini lebih banyak ngeruk dari pada membangun.

Bukannya jadi pengamat atau kritikus pembangunan, tapi ini sekedar Ngelantur saja. Saya hanya melihat keanehan di sini. Kalau di Jawa [saya memberikan contoh Jawa karena sebelum di Riau ini saya hidup di Jawa], fasilitas umum serba ada. Mulai dari taman kota, perpustakaan umum, tempat rekreasi (kolam renang, mall, dll). Tapi tidak demikian halnya di Riau, khususnya Pekanbaru, dan sekitarnya. Kemana saja hasil bumi Bumi Lancang Kuning ini? Jangankan membangun hal-hal yang hebat, membangun infrastruktur (jalan) saja tidak beres.

Kemarin saya baca di koran lokal yang berjudul Kas BI Pekanbaru selalu Net Out FLow. Apa isi beritanya? Intinya adalah pengeluaran uang oleh BI Pekanbaru jauh lebih besar dari pengembalianya. Artinya apa? Banyak penarikan uang, tapi tidak dibelanjakan di daerah sendiri. Masyarakat Riau atau Pekanbaru rupanya lebih senang belanja di Jakarta, Batam, Kuala Lumpur, Singapore atau yang lainnya. Secara ekonomi tidak akan berdampak signifikan, tapi peluang pertumbuhan ekonomi yang seharusnya bisa tergenjot dengan peredaran uang di daerah Riau menjadi lebih lambat. Demikian ulasan di dalam koran mengimbuhkan.

Tapi Anda jangan heran kalau melihat kendaraan dinas pemda di Riau, yang memiliki wilayah seluas 979.55 Km persegi ini. Mulai dari Terrano, Murano dan no-no lainnya. Pokoknya mewah abis dah. Kenapa tidak pakai yang biasa saja? Kijang rasanya lebih pas untuk jadi kendaraan dinas, baik dari segi harga dan konsumsi bahan bakar. Oh ya, kalau Anda bawa mobil ke Pekanbaru, sebaiknya jangan yang berbahan bakar Pertamax. Di sini cuma ada 1 pompa bensin yang menjual Pertamax, letaknya jauh dari pusat kota lagi. Hehehehe.

Sumber: http://www.menlh.go.id; Tribun Pekanbaru

Read Full Post »

Bell 430

Kalau naik pesawat terbang mungkin Anda sudah biasa, tidak demikian halnya naik helikopter. Bell 430 adalah model helikopter penumpang dan saya pernah terbang dengan kendaraan udara berkapasitas 8 penumpang dan 2 awak ini. Waktu itu dari Rumbai ke Duri dan sebaliknya.

Sama seperti pengalaman pertama naik pesawat, deg-degan dan was-was adalah rasa yang terus melintas di kepala. Kapan nyampai.. kapan nyampai… itu saja yang terus jadi pertanyaan dalam pikiran saya. Lebih cepat nyampai, itu saja yang ditawarkan dengan kendaran udara ini. Kalau melalui perjalanan darat, Rumbai – Duri biasa saya tempuh dalam 2,5 jam. Dengan heli atau chopper ini cuman perlu waktu 0,5 jam.

Oh ya, foto di samping bukan Bell 430 yang saya naiki. Waktu itu saya sudah ambil fotonya, cuman lupa lagi disimpan di mana. Jadi sementara, saya pake gambar dari mBah Google.

Read Full Post »

Hufff…

Bangun pagi td rasanya lebih segar dari biasanya. Semalem abis dipijit Mbok Murah seh… Memang, saya ini termasuk orang yang doyan pijit. Rutin sebulan sekali saya memanggil tukang pijit ke rumah. Kebiasaan ini sebenarnya sudah saya lakukan sejak jaman masih kuliah di Bandung. Langganan saya di sana adalah Mbah Pijit (saya menyebutnya demikian) yang rumahnya di daerah Kampus Unpar Bandung. Beliau ini tukang pijit yang bersertifikat dari pemerintah. Ini saya temukan dari pajangan-pajangan di dinding rumahnya. Pokoknya uenak tenan dech, kalau mau dan tertarik, saya bisa berikan nomor telepon rumahnya. Sekali pijit, saya bayar 20 ribu. Ini harga khusus untuk saya waktu jaman mahasiswa lho. Kalau orang lain 50 ribu. Bagi saya 20 ribu waktu itu masih terasa mahal, itu jatah makan untuk 3 hari. Tapi karena saya doyan… yah, berkorban lah.

Selain makanan jawa timuran (rujak cingur, lontong balap, bebek goreng, dll), yang saya cari pertama kali adalah tukang pijit, jika datang ke daerah baru. Waduh, nulis makanan jawa timuran membuat saya kangen rumah neh. [Di Pekanbaru sampai saat ini saya belum menemukan yang jualan rujak cingur atau makanan jawa timuran lainnya. Eh, kalau nasi bebek udah ding. Mungkin saya harus lebih gencar lagi mencari info]. Tahun depan saya akan pindah lokasi kerja di Duri. Mulai sekarang saya sudah mencari info ttg keberadaan tukang pijit yang enak. Hahahahaha. Persiapan euy.

Sebenarnya salah satu impian saya dari dulu, ingin membuat rumah pijit. Yaaahhh.. konsepnya saya ingin memadukannya dengan klinik dokter. Sebelum dipijit, orang yang datang akan dicek dulu tensi darahnya, berat badan dll. Jadi orang yang datang bisa memilih juga, mau ke dokter saja atau sekalian dipijit. Atau mungkin konsepnya rumah pijit keluarga? Bapak dan ibunya pijit, anak-anaknya ada tempat bermain. Mudah-mudahan seh bisa kesampaian. Kalau iya kan gampang kalau saya mau pijit. Gak perlu manggil tukang pijit lagi. Hehehehe.

Read Full Post »

Setelah malam ngulik proxy baru, paginya saya ditodong istri sarapan bubur ayam. Kalau di Pekanbaru, bubur ayam yang lumayan enak adalah Bubur Ayam Jakarta di Jalan Ronggowarsito. Setelah mandi, saya dan istri segera bergegas berangkat nyari sarapan bubur ayam yang dimaksud.

Di tengah perjalanan, pas di lampu merah ada sekelompok anak usia sekitar 15 tahun menjual koran, Tribun Pekanbaru. “Berapaan Dek?” saya bertanya ke salah seorang anak. “Seribuan saja Bang”, degan cepat anak itu menimpali. Saya memberi kode kepada istri yang duduk di samping saya untuk memberikan uang seribu. Sebenarnya saya tidak niat membeli koran, tapi saya hanya ingin membantu anak-anak tsb. Amal ceritanya (lah, amal kok cerita-cerita). Maksud saya adalah anak-anak ini sudah melakukan hal positif, jadi harus kita dukung.

Akhirnya sampai juga di tempat jual buburnya setelah 25 menit perjalanan mobil. Rupanya sudah penuh dengan orang. Saya memilih meja agak dipojokan dengan kursi kayu yang panjang. Sebenarnya tempat bubur ayam ini relatif sederhana, terbuat dari tenda terpal. Tapi rasanya bo, mak nyusss tenan… Apalagi dicampur dengan ati ayamnya. Lebih weenak lagi. Bubur Ayam Jakarta yang ini selalu ramai pengunjung. Bukanya hanya pagi-siang. Kalau ke Pekanbaru, silahkan mampir, Bubur Ayam Jakarta di Jalan Ronggowarsito (depan Rumah Sakit Zaenab).

Neh fotonya. Saya gak bisa nerusin nulis neh. Istri sudah menunggu, ngajak jalan-jalan ke mall. Malem mingguan. Hehehehe.

Read Full Post »

Hari Jumat kemarin saya meng-install proxy untuk Internet Camp. Sudah lama server ini saya tunggu-tungu. Bukan karena apa, tapi saya pengen tahu gimana seh ‘rupa’ proxy yang seharga hampir 500jt rupiah ini. Wow… Kalau dulu, saya suka install dan ngoprek Squid untuk proxy, aplikasinya sih gratis alias opensource cuman mesinnya ya harus beli sendiri (kalau menggunakan pc jangkrik, ya sekitar 5jt udah keren).

Ternyata tidak hanya saya saja yang penasaran, beberapa teman IT datang untuk melihat proxy itu. Karena proxy ini adalah yang pertama diimplementasikan di Chevron dan di Indonesia (gak tau karena memang kurang bagus atau karena kurang murah, hahahaha). Pas dibuka, dari segi fisik/penampakan sih kurang meyakinkan, ukuran 1U dan 19″. Eh, ingat pepatah, don’t judge the book from its cover (bener gak neh pepatahnya?).

Setelah instalasi fisik dan koneksi ke jaringan selesai, saatnya men-setup si proxy. Saya amati dengan seksama. Ternyata mudah juga ya setup-nya, dalam hati saya bergumam. Tidak berapa lama kemudian proxy sudah siap. Koneksi ke halaman web sudah ok. Setelah itu saya minta agar default password adminnya diganti. Saya juga pesan agar semua aplikasi seperti YM, Skype, Gtalk dan juga aplikasi yang umum digunakan di internet bisa dilewatkan oleh proxy (para expatriate menggunakan aplikasi tsb untuk komunikasi dengan keluarganya di negara asalnya). Saya pun kembali ke ruangan kerja, karena ada beberapa urusan.

Waktu pulang kerja pun tiba, saya segera beres-beres. Cek email yang belum dibalas, cek kerjaan tim instalasi modem ADSL, minta laporan dari helpdesk, cek teman-teman yang sedang melakukan troubleshooting saluran transmisi Duri – Dumai, dll. Pokoknya semua pekerjaan yang saya tangani harus jelas statusnya. Sehingga kita bisa membuat perencanaan untuk hari berikutnya. Eh, tiba-tiba ada telpun dari salah satu user Internet Camp yang melaporkan bahwa halaman mail yahoo dan mail google tidak bisa dibuka. Segera saya cek, dan ternyata benar. Rupanya proxy tidak bisa meneruskan certificate dari halaman HTTPS. Segera saya telpun orang yang meng-install proxy. Yah.. dia sudah pulang. Ya udah, segera saya telpun helpdesk untuk menginformasikan bahwa ada masalah tersebut, agar nanti kalau ada user yang lapor, helpdesk bisa memberi jawaban.

Setelah sampai di mess, saya tergelitik untuk ngoprek si proxy. Pikir saya, kalau nunggu orangnya datang besok pagi tentu terlalu lama. Saya juga pengen ngecek email jg neh. Akhirnya saya coba masuk ke halaman konfigurasi proxy. Sedikit klak-klik sana dan sini, baca help, terus coba lagi. Akhirnya.. setelah sekitar 1 jam ketemu juga biangnya. Terima kasih jg buat istriku yang sudah menyuapi makan malam. Hehehehe. Ternyata asyik jg proxy ini. Selain fleksibilitas, kemudahan konfigurasi juga menjadi hal yang penting. Saya coba lebih dalam lagi, karena penasaran. Platform-nya apa sih? Jangan-jangan Linux + Squid? Ternyata bukan Linux, FreeBSD atau Windows. Proxy ini menggunakan OS tersendiri, mirip OS di Cisco (kalau dilihat dari syntax Command Line Interface-nya). Weh, malam itu saya mendapat ilmu baru. Dan yang paling penting, dengan adanya caching feature di proxy ini, trafic langsung ke Internet lumanan teredam. Utilisasi bandwidth yang tadinya hampir saturasi di 16 Mbps, menjadi agak turun menjadi 12 Mbps. Yah, mudah-mudahan sebanding dengan harganya. Saya belum bisa menceritakan detail semua kelebihan proxy ini. Istri sudah ngajak tidur siang neh. Bobo dl ah…

Read Full Post »

Sop Ikan Mall Senapelan

Pengennya makan sate kambing, dapetnya sop ikan. Jadi bisa dibikin pribahasa tuch, tidak ada sate kambing, sop ikanpun jadi. Nggak lucu ah (maklum, lagi bosen neh).

Ceritanya, sore tadi saya dan istriĀ  ke kota (istilah orang sini kalau pergi ke Pekanbaru) untuk cari makan. Bingung, makan di mana ya? Ah, teringat kalau saya mau beli kaset karaoke di Mall Senapelan. Di situ juga ada sop ikan yang lumayan enak. Istri juga setuju. Meluncurlah kita ke Mall Senapelan.

Tuuh, sebelum dimakan, sop ikan dijepret dulu. Buat barang bukti. Lho, nasinya kok cuman satu? Eh, jangan salah, istri pesan nasi timbel (maklum, urang sunda asli), cuman belum disajikan. Seperti saya sebut sebelumnya, sop ikan di sini lumayan enak (dibanding tempat lain), cuman tempatnya yang kurang nyaman. Meskipun ber-AC, ada yang merokok. Aneh memang di Pekanbaru ini. Tidak hanya di situ, di tempat lain juga pernah saya temui hal yang sama. AC dan rokok campur, jadi yang kerasa rokoknya. Saya sempat protes ke waitress-nya. Eh, malah saya dikasih asbak yang menandakan bahwa memang di situ boleh merokok. Dalam hati saya berkata, ini Sumatra Bung.

Setelah selesai makan sop ikan, saya langsung ke toko cd/dvd yang tempatnya hanya berjarak sekitar 50 meter dari tempat makan. Setelah sampai rumah, langsung saya setel CD karaoke Letto yang bertajuk don’t make me sad. Saya dan istri bergantian menyanyi. Asyik juga, sayang gak ada amplifier-nya. Tenang saja, di camp sini ada tempat karaoke yang mantab punya. Nanti ke situ rame-rame ah.

Read Full Post »

Older Posts »